PETANI

Dedikasi Aipda Iwan Selama 15 Tahun Tingkatkan Kesejahteraan Petani Lokal

Dedikasi Aipda Iwan Selama 15 Tahun Tingkatkan Kesejahteraan Petani Lokal
Dedikasi Aipda Iwan Selama 15 Tahun Tingkatkan Kesejahteraan Petani Lokal

JAKARTA - Selama 15 tahun terakhir, Aipda Iwan Haryanto telah menjadi figur penting di balik peningkatan sektor pertanian di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Sosoknya tidak sekadar sebagai aparat, tetapi juga sebagai pembina dan mentor bagi ratusan petani desa setempat. Dedikasinya yang panjang dan konsisten tak hanya meningkatkan kemampuan bercocok tanam, tetapi juga membawa perubahan nyata pada perekonomian desa yang selama ini bergantung pada hasil bumi. Program yang digagasnya beririsan langsung dengan cita-cita Ketahanan Pangan, salah satu prioritas utama pemerintah saat ini.

Seorang petani dari Indralaya bernama Wawan memberi pengakuan betapa besar peran Iwan dalam mengubah cara mereka bertani. Ia mengaku belajar banyak cara menanam jagung dan melon, termasuk teknik pemupukan hingga penyemprotan yang lebih efektif. “Beliau baik, dia pengertian, membimbing kami sebagai petani, baiklah kepribadiaannya,” ungkap Wawan.

Inovasi Alat Pertanian: Mesin yang Mempermudah Petani

Tidak hanya memberi teori dan praktik bercocok tanam, Aipda Iwan juga terlibat langsung dalam inovasi alat pertanian. Ia diketahui merakit mesin perontok jagung yang sebelumnya merupakan pekerjaan manual dan memakan waktu lama. Alat yang dirakit Iwan membantu petani memisahkan biji jagung dari tongkolnya secara efektif, sesuatu yang sebelumnya sulit dilakukan tanpa mengeluarkan biaya besar untuk mesin pabrikan.

Wawan yang menggarap lahan seluas 2 hektare mengatakan bahwa mesin itu sangat membantu. “Iya ada mesin pemipil jagung. Sangat membantu, kami petani. Membantu, sangat membimbing kami Pak Iwan-nya,” ujarnya.

Lebih dari itu, Iwan juga membantu memfasilitasi penyerapan hasil panen jagung ke Perum Bulog. Hal ini signifikan karena harga yang diperoleh petani di Bulog lebih tinggi dibandingkan dengan tengkulak — sekitar Rp 6.400 dibanding Rp 5.000 — yang meningkatkan pendapatan mereka.

Asal Usul Kepiawaian dan Peran Iwan dalam Kelompok Tani

Bagi Aipda Iwan, bertani bukanlah tugas sampingan — ia sudah menjadikannya sebagai bagian dari hidup sejak lama. Bertani adalah hobi yang ia pelajari dari orang tuanya, dan kini telah ia jalankan secara serius selama belasan tahun sambil bertugas sebagai anggota Polri. “Setelah saya bertugas, saya memang hobi bertani, (ilmu bertani) dari orang tua,” kata Iwan.

Selama 15 tahun itu, ia mulai dari menanam melon dan kemudian beralih ke jagung, sampai akhirnya terlibat aktif sebagai pembina dan anggota kelompok tani Serai Makmur Sejahtera. Pada saat yang sama, program Ketahanan Pangan yang digulirkan pemerintah pada masa pemerintahan Presiden Prabowo turut memperkuat arah dan manfaat dari upayanya.

Saat ini, kelompok tani yang ia bina memiliki sekitar 20 anggota dan menggarap total sekitar 30 hektare lahan yang ditanami jagung dan melon. Ini bukan hanya soal luas lahan, tetapi dampak nyata terhadap pendapatan dan kemandirian petani lokal.

Kontribusi untuk Ekonomi Desa dan Kemandirian Petani

Pengaruh kerja keras dan pembinaan Iwan terasa dalam kehidupan ekonomi masyarakat desa. Selama belasan tahun ini, ia mengaku telah membina lebih dari 100 petani hingga mereka bisa mandiri dan berhasil menanam berbagai komoditas. “Alhamdulillah kalau 100 orang lebih sudah banyak ada yang mandiri, alhamdulillah sudah ada yang berhasil nanam melon, nanam jagung,” tuturnya.

Ia juga menyebut bahwa para petani kini bisa memperoleh penghasilan yang lebih stabil. Menurutnya, dalam satu bulan petani bisa mendapatkan Rp 3–4 juta, jumlah yang cukup untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak. Iwan menambahkan bahwa ada warga yang sebelumnya bekerja sebagai tukang, kini memilih bertani karena produktivitasnya lebih menguntungkan. “Jadi banyak profesi seperti tukang, itu ada yang berubah jadi petani… dihitung-hitung enak dia bertani,” katanya.

Dalam perhitungan kasar, dari satu hektare jagung petani bisa mendapatkan hasil hingga Rp 14 juta, atau rata-rata sekitar Rp 3 juta per bulan. Ini menggambarkan bahwa pertanian yang dibina dengan teknik yang lebih baik dan dukungan penyerapan pasar dapat meningkatkan kesejahteraan petani secara nyata.

Langkah Berani: Mesin Dryer Hingga Pinjaman Bank

Selain alat perontok jagung, Iwan bersama rekan-rekannya juga membuat mesin pengering/jagung dryer secara mandiri. Mesin ini dibuat dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan membeli mesin pabrikan, sehingga membantu petani dalam mengatasi tantangan iklim yang tidak menentu. “Jadi saya berpikir, nekat buat oven… saya minjam uang bank Rp 100 jutaan… alhamdulillah Pak Kapolres acc,” ceritanya.

Dengan dryer tersebut, jagung bisa dikeringkan hingga kadar air 14%, standar yang ditetapkan untuk penjualan ke Bulog, sehingga menghasilkan harga jual yang lebih baik. Alat ini juga sudah digunakan di wilayah lain seperti Ogan Komering Ulu Timur dan Selatan, serta diborong oleh Kapolda Sumsel.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index