Menjelajahi Fenomena Fry Meetups: Kaisar Kentang Goreng Jadi Magnet Sosial

Rabu, 04 Februari 2026 | 15:07:33 WIB

JAKARTA - Fenomena Fry Meetups belakangan jadi salah satu tren sosial paling ramai dibahas di Korea Selatan. Tren ini muncul di kalangan Gen-Z Korea sebagai cara baru berkumpul dan bersosialisasi — bukan soal minuman atau musik, tetapi hanya makan kentang goreng bersama orang asing yang belum pernah saling kenal sebelumnya.

Gerakan ini awalnya lahir dari aktivitas di aplikasi komunitas lokal bernama Karrot (atau Danggeun Market), sebuah platform jual-beli barang bekas berbasis lingkungan yang sangat populer di negara itu. Melalui Karrot, orang bisa saling berinteraksi dalam radius tertentu, bahkan tanpa pernah bertemu secara langsung sebelumnya.

Ide dasar Fry Meetups cukup sederhana: pengguna aplikasi mengorganisir pertemuan dengan mengundang orang-orang yang belum mereka kenal untuk berkumpul di gerai makanan cepat saji tertentu. Ketika kuota peserta dirasa sudah cukup, acara pun dimulai begitu kentang goreng dalam porsi besar datang. Mereka lalu menikmati kentang goreng bersama sambil mengobrol santai.

Fenomena ini menjadi jauh lebih besar dari sekadar ajakan makan bersama — Fry Meetups kini mencerminkan bagaimana komunitas digital bisa memunculkan cara baru bersosialisasi di dunia nyata.

Karrot dan “Manner Meter” – Fitur yang Memicu Interaksi

Faktor kunci di balik popularitas tren ini adalah fitur unik yang dimiliki oleh Karrot. Aplikasi ini tidak hanya memfasilitasi jual-beli barang bekas, tetapi juga memberi bobot pada interaksi sosial antara penggunanya.

Salah satu fitur ikonik dari Karrot adalah Manner Meter, semacam indikator sopan santun anggota komunitas. Setiap pengguna memiliki skor yang digambarkan sebagai suhu tubuh, dengan rentang normal berada di kisaran 36,5°C. Skor ini bisa naik hingga 99°C jika pengguna dinilai ramah atau bersikap sopan oleh sesama pengguna, dan bisa turun jika dinilai kurang menyenangkan.

Fitur tersebut, yang awalnya dirancang untuk menghormati etika dan tata krama dalam jual-beli barang, ternyata juga menjadi faktor yang memicu munculnya Fry Meetups. Karena pengguna saling menilai dan memberikan skor kesopanan, rasa ingin terlibat dalam interaksi sosial pun meningkat, hingga sekadar mengajak orang makan kentang goreng bersama pun menjadi sebuah kegiatan komunitas yang unik.

Tak Sekadar Makan – Makna Sosial di Balik Fry Meetups

Meski terlihat sederhana — berkumpul untuk makan kentang goreng bersama — tren ini menimbulkan berbagai interpretasi sosial yang menarik. Banyak anak muda Korea merasa Fry Meetups memberikan mereka ruang untuk bersosialisasi tanpa tekanan norma atau formalitas tertentu, seperti yang sering terjadi di acara konvensional.

Dengan cara ini, fenomena Fry Meetups membawa nuansa sosial baru: pertemuan antara individu yang sebelumnya asing namun berkumpul atas dasar hal sederhana. Aktivitas makan bersama, khususnya makanan yang merakyat seperti kentang goreng, menjadi semacam icebreaker sosial yang tak terduga.

Karena menjadi kegiatan tatap muka yang mudah diikuti, tren ini pun terlihat cepat menyebar dan mendulang banyak perhatian netizen. Setidaknya sudah tercatat 99 grup Fry Meetups di Seoul saja, sementara angka peserta terus bertambah di berbagai komunitas lainnya.

Viral, Namun Bukan Tanpa Kontroversi

Kendati banyak dipuji sebagai bentuk inovasi dalam bersosialisasi, tren Fry Meetups juga tak lepas dari kritik, terutama terkait isu kesehatan. Aktivitas ini hampir selalu berpusat pada makanan cepat saji yang memang terkenal digemari generasi muda. Sayangnya, konsumsi makanan berlemak tinggi seperti kentang goreng jika dilakukan secara terus menerus memiliki risiko kesehatan jangka panjang.

Beberapa ahli kesehatan memperingatkan bahwa kebiasaan sering mengonsumsi makanan yang digoreng dalam minyak bersuhu tinggi berpotensi meningkatkan risiko penyakit, termasuk gangguan neurodegeneratif seperti Alzheimer. Hal ini menjadi catatan penting bahwa tren sosial tetap memiliki sisi konsekuensi yang perlu diperhatikan.

Selain itu, ketergantungan pada satu jenis makanan tertentu untuk aktivitas sosial juga memunculkan perdebatan. Beberapa pihak berpendapat bahwa hal semacam ini justru mencerminkan cara generasi muda mencari “jalan pintas” dalam membangun hubungan sosial di dunia yang semakin digital dan individualistis.

Apa Arti Fry Meetups Bagi Gen-Z Korea Saat Ini?

Lebih dari sekadar tren viral, Fry Meetups dapat dipandang sebagai bagian dari evolusi budaya sosial Gen-Z di era digital. Tren ini menggabungkan interaksi digital melalui aplikasi komunitas dengan pertemuan tatap muka di dunia nyata, menghasilkan cara baru berkomunikasi yang lebih santai namun tetap bermakna.

Bagi generasi yang dibesarkan di era media sosial, di mana hubungan antarindividu sering kali terjadi melalui layar ponsel, Fry Meetups memberikan ruang unik untuk membangun koneksi sosial secara langsung — tanpa embel-embel formalitas atau tekanan pergaulan tradisional.

Dengan berbagai kelebihan dan kontroversi yang ada, satu hal yang pasti: tren ini mencerminkan sebuah dinamika sosial yang menarik dan terus berkembang di tengah Gen-Z Korea. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah tren seperti Fry Meetups akan menjadi fenomena global, atau sekadar momentum unik yang hanya muncul di Korea.

Terkini