JAKARTA - Perkembangan pasar tenaga kerja Indonesia menjelang akhir 2025 menunjukkan sinyal yang semakin menggembirakan.
Di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, kondisi ketenagakerjaan dalam negeri justru memperlihatkan arah pemulihan yang konsisten.
Bertambahnya jumlah penduduk bekerja dan menurunnya angka pengangguran menjadi indikator utama bahwa aktivitas ekonomi nasional terus bergerak ke arah yang lebih stabil.
Kondisi ini mencerminkan bahwa berbagai sektor usaha kembali bergeliat dan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan.
Mobilitas ekonomi yang meningkat, konsumsi masyarakat yang membaik, serta aktivitas produksi yang semakin aktif turut mendorong terciptanya lapangan kerja baru. Situasi tersebut memberikan harapan terhadap penguatan struktur ekonomi nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Data resmi mengenai ketenagakerjaan menjadi rujukan penting untuk membaca arah kebijakan dan kondisi riil di lapangan. Melalui statistik yang dirilis secara berkala, pemerintah dan pemangku kepentingan dapat mengevaluasi efektivitas program penciptaan kerja sekaligus mengidentifikasi tantangan yang masih perlu diatasi.
BPS
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk bekerja di Indonesia mencapai 147,91 juta orang pada November 2025 atau naik 1,37 juta orang dibandingkan Agustus 2025, dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun 0,11 persen.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Jakarta, Kamis, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah pekerja tersebut terjadi seiring dengan bertambahnya angkatan kerja dan menurunnya tingkat pengangguran dalam tiga bulan terakhir. Menurut dia, kondisi ini mencerminkan perbaikan aktivitas ekonomi yang cukup merata di berbagai sektor.
BPS mencatat bahwa pada November 2025 jumlah penduduk usia kerja mencapai 218,85 juta orang. Angka ini meningkat sekitar 0,681 juta orang dibandingkan Agustus 2025.
Dari total penduduk usia kerja tersebut, jumlah angkatan kerja tercatat sebanyak 155,27 juta orang atau bertambah 1,262 juta orang, sementara jumlah bukan angkatan kerja menurun sebesar 0,58 juta orang menjadi 63,58 juta orang.
Dari total angkatan kerja itu, sebanyak 147,91 juta orang telah bekerja. Sementara itu, jumlah penduduk yang masih menganggur tercatat sebanyak 7,35 juta orang, turun sekitar 0,109 juta orang dibandingkan Agustus 2025. Penurunan ini menunjukkan bahwa penciptaan lapangan kerja mampu mengimbangi bahkan melampaui pertumbuhan angkatan kerja.
“Dengan demikian, tingkat pengangguran terbuka pada November 2025 tercatat sebesar 4,74 persen atau turun sekitar 0,11 persen,” kata Amalia.
Selain jumlah penduduk bekerja yang meningkat, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) juga mengalami kenaikan.
Pada November 2025, TPAK tercatat sebesar 70,95 persen, lebih tinggi dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 70,59 persen. Kenaikan ini menunjukkan semakin besarnya proporsi penduduk usia kerja yang aktif dalam kegiatan ekonomi.
Kualitas Pekerjaan Ikut Membaik
Dari sisi kualitas pekerjaan, BPS mencatat peningkatan jumlah pekerja penuh yang cukup signifikan. Pada November 2025, jumlah pekerja penuh mencapai 100,49 juta orang atau bertambah 1,85 juta orang dibandingkan Agustus 2025. Kondisi ini menandakan bahwa semakin banyak pekerja yang memperoleh jam kerja optimal sesuai standar ketenagakerjaan.
Sementara itu, jumlah pekerja paruh waktu tercatat sebanyak 35,8 juta orang dan setengah pengangguran sebanyak 11,55 juta orang. Kedua kelompok ini mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan tersebut mengindikasikan adanya pergeseran dari pekerjaan dengan jam kerja terbatas ke pekerjaan yang lebih stabil dan produktif.
Perbaikan kualitas pekerjaan ini menjadi sinyal positif bagi kesejahteraan tenaga kerja. Dengan jam kerja yang lebih memadai, pekerja memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh pendapatan yang lebih layak serta meningkatkan daya beli rumah tangga.
Sektor Usaha Penyerap Tenaga Kerja
Berdasarkan lapangan usaha, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia pada November 2025. Sektor ini tetap memainkan peran strategis dalam menampung tenaga kerja, terutama di wilayah perdesaan. Selain pertanian, sektor perdagangan dan industri pengolahan juga menjadi penyumbang utama penyerapan tenaga kerja nasional.
“Hampir seluruh lapangan usaha mengalami peningkatan jumlah tenaga kerja, kecuali aktivitas jasa lainnya dan pengadaan listrik, dan gas,” kata Amalia.
Adapun sektor yang mencatat kenaikan tenaga kerja tertinggi dalam periode Agustus hingga November 2025 adalah sektor akomodasi dan makanan minuman yang bertambah sebesar 0,381 juta orang. Peningkatan ini sejalan dengan membaiknya aktivitas pariwisata serta konsumsi masyarakat.
Industri pengolahan juga mencatat penambahan tenaga kerja sebanyak 196 ribu orang, sementara sektor perdagangan meningkat sekitar 168 ribu orang. Kenaikan tersebut menunjukkan menguatnya aktivitas produksi dan distribusi barang di dalam negeri.
Perubahan Status Pekerjaan
Ditinjau dari status pekerjaan, BPS mencatat bahwa sebanyak 38,81 persen penduduk bekerja berstatus sebagai buruh, karyawan, atau pegawai. Kelompok ini menjadi yang terbesar dan juga mencatat penambahan paling signifikan, yakni sekitar 625 ribu orang dalam tiga bulan terakhir.
Peningkatan jumlah buruh, karyawan, dan pegawai menunjukkan ekspansi sektor formal yang semakin luas. Kondisi ini dinilai positif karena pekerjaan formal umumnya menawarkan perlindungan dan kepastian kerja yang lebih baik.
Sebaliknya, jumlah penduduk bekerja dengan status berusaha sendiri mengalami penurunan sebesar 0,68 juta orang. Perubahan ini mengindikasikan adanya pergeseran sebagian tenaga kerja dari usaha mandiri menuju pekerjaan dengan status upahan.
Prospek Ketenagakerjaan ke Depan
Secara keseluruhan, perkembangan ketenagakerjaan Indonesia pada November 2025 mencerminkan tren pemulihan yang berkelanjutan. Bertambahnya jumlah penduduk bekerja, menurunnya tingkat pengangguran, serta membaiknya kualitas pekerjaan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Ke depan, tantangan yang dihadapi adalah menjaga momentum penciptaan lapangan kerja berkualitas agar mampu menyerap tambahan angkatan kerja baru. Konsistensi kebijakan, penguatan sektor produktif, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci agar tren positif ini dapat terus berlanjut.