Indonesia Terima Apresiasi Al-Azhar atas Komitmen Kembangkan SDM Islam Moderat Global

Senin, 09 Februari 2026 | 15:29:14 WIB

JAKARTA - Komitmen Indonesia dalam memajukan sumber daya manusia (SDM) Islam berhaluan moderat kembali mendapat sorotan tinggi dari lembaga pendidikan Islam tertua dan paling bergengsi di dunia, Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Pengakuan ini tidak hanya menjadi simbol diplomasi pendidikan antara dua negara, tetapi juga menunjukkan keberhasilan upaya Indonesia dalam memperkuat visi moderasi Islam pada kancah internasional. Pernyataan apresiasi disampaikan langsung oleh tokoh-tokoh penting Al-Azhar dalam pertemuan resmi dengan delegasi dari Indonesia, yang mencerminkan penghargaan terhadap peran aktif Indonesia dalam menyebarkan nilai-nilai Islam wasathiyah (moderat) di tengah tantangan global saat ini.

Pengakuan tersebut diberikan dalam sebuah acara di Kairo pada 8 Februari 2026, di mana Wakil Grand Syaikh Al-Azhar, Prof. Dr. Muhammad Abdurrahman Ad-Duwaini, dan Grand Mufti Mesir, Prof. Dr. Nadhir Muhammad Ayyadh, menyampaikan langsung apresiasi kepada delegasi Indonesia yang hadir, termasuk pimpinan pesantren dan mahasiswa yang belajar di Al-Azhar. Penghargaan ini memperkuat hubungan pendidikan kedua negara dan menjadi tonggak penting dalam kolaborasi berkelanjutan di sektor pendidikan Islam.

Penghargaan Khusus untuk Tokoh Bangsa Indonesia
Dalam pernyataannya, pihak Al-Azhar menyoroti dedikasi khusus dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, serta Ketua Dewan Pembina ASFA Foundation, H. Samsudin Andi Arsyad (lebih dikenal sebagai Haji Isam). Pengakuan ini diberikan tidak semata karena jabatan mereka, tetapi lebih kepada kontribusi nyata dalam mendorong ekosistem pendidikan Islam global yang inklusif dan terbuka.

Menurut petinggi Al-Azhar, dukungan pemerintah Indonesia terhadap percepatan kualitas SDM Islam sangat krusial dalam menghadapi tantangan masa depan. “Dukungan ini sangat vital untuk melahirkan ulama yang mumpuni di masa depan,” ungkap salah satu pimpinan Al-Azhar. Pernyataan ini menegaskan bahwa pembinaan kualitas ulama berperan penting dalam memajukan komunitas Muslim tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

Selain itu, apresiasi yang mendalam juga diberikan kepada Haji Isam atas kepedulian luar biasa yang terus diperlihatkan melalui program beasiswa dan pendampingan akademik bagi mahasiswa internasional. “Kami mendoakan agar Allah senantiasa menjaga beliau (Haji Isam), serta memberikan kemudahan dan taufik dalam segala usahanya. Dukungan beliau terhadap program kolaborasi ASFA dan Al-Azhar sangat dirasakan manfaatnya,” ujar Syaikh Ad-Duwaini dalam forum itu.

Delegasi Indonesia yang Memperkuat Hubungan Akademik di Kairo
Delegasi yang hadir dalam pertemuan tersebut bukanlah sembarang rombongan; mereka terdiri dari 45 peserta short course — program intensif pendidikan — yang merupakan pimpinan pesantren dari 22 provinsi di Indonesia, serta 150 mahasiswa S2 dan S3 Universitas Al-Azhar yang menerima beasiswa dari Lazis ASFA. Kehadiran para pemimpin pesantren ini menunjukkan komitmen kuat Indonesia dalam memperluas kapasitas pendidikan Islam moderat melalui jaringan strategis antara pesantren dan universitas internasional terkemuka.

Kolaborasi antara Al-Azhar dan ASFA Foundation telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Program-program strategis yang dijalankan meliputi beasiswa, pelatihan, seminar, dan riset kolaboratif, yang semuanya bertujuan memperkuat pendidikan Islam dan menyiapkan ulama yang memiliki wawasan luas dan moderat. Bentuk paling nyata dari kerja sama ini terlihat pada dua kali perhelatan wisuda internasional yang digelar pada November 2024 dan November 2025. Dalam acara tersebut, lebih dari 1.900 wisudawan dari 46 negara menerima gelar mereka, suatu prestasi yang menegaskan posisi ASFA Foundation dan Al-Azhar sebagai pusat pendidikan Islam berpengaruh di dunia.

Pesan dari Pimpinan Al-Azhar kepada Generasi Ulama Baru
Selain penghargaan dan pengakuan, tokoh-tokoh Al-Azhar juga menyampaikan nasihat penting kepada para kader ulama dan pimpinan pesantren yang hadir. Syaikh Ad-Duwaini menekankan bahwa penguasaan ilmu harus komprehensif dan mendalam agar mampu menjawab tantangan zaman. Ia mengingatkan bahwa ulama harus menjadi teladan dalam masyarakat, serta menyampaikan dakwah dengan nilai wasathiyah — yakni moderasi, hikmah, dan santun.

“Ulama harus menjadi teladan. Jadilah ulama yang membawa nilai wasathiyah (moderat), penuh hikmah, dan santun dalam berdakwah,” tegasnya dalam salah satu sesi pertemuan. Pernyataan ini tidak hanya mencerminkan prinsip pendidikan Islam yang moderat, tetapi juga menjadi penegasan bahwa moderasi adalah fondasi penting dalam menjembatani keragaman dan menjaga keharmonisan di tengah masyarakat global.

Ia juga mengingatkan mengenai prinsip kehati-hatian dalam berfatwa, menekankan bahwa ketergesaan tanpa memahami akar masalah dapat membawa umat pada kemunduran. Senada dengan itu, Grand Mufti Syaikh Nadhir Ayyadh menggarisbawahi bahwa fatwa harus memberi kemudahan (taisir) namun tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip syariat.

Mitra Strategis dalam Pendidikan Islam Dunia
Kolaborasi antara Indonesia dan Al-Azhar tidak hanya bersifat simbolik, tetapi telah menjadi kemitraan strategis yang konkret. Dukungan program beasiswa, kerja sama akademik, dan pembinaan ulama merupakan bukti nyata bahwa kedua pihak melihat pendidikan Islam moderat sebagai investasi jangka panjang untuk kemajuan umat. Tingginya apresiasi ini sekaligus menjadi tanggung jawab bagi Indonesia untuk terus memperkuat perannya serta menjadikan moderasi Islam sebagai model yang relevan di era globalisasi saat ini.

Dengan cara pandang baru terhadap penghargaan internasional ini, hubungan Indonesia–Al-Azhar diperkirakan akan semakin intens, terutama dalam memperluas jangkauan pendidikan Islam moderat yang inklusif dan dialogis di masa depan.

Terkini