SUN

Lelang SUN Februari 2026 Bukti Kepercayaan Investor Pada Indonesia

Lelang SUN Februari 2026 Bukti Kepercayaan Investor Pada Indonesia
Lelang SUN Februari 2026 Bukti Kepercayaan Investor Pada Indonesia

JAKARTA - Pemerintah Indonesia berhasil menyerap dana sebesar Rp36 triliun melalui lelang sembilan seri Surat Utang Negara (SUN) yang dilaksanakan pada tanggal 3 Februari 2026. 

Total penawaran yang masuk mencapai Rp76,59 triliun, menunjukkan minat investor yang tinggi terhadap instrumen surat utang pemerintah. 

Kepala Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan menyampaikan bahwa hasil ini menjadi bukti kuatnya kepercayaan pasar terhadap kondisi fiskal dan prospek ekonomi nasional.

Seri FR0108 menjadi seri dengan penyerapan terbesar, di mana pemerintah menerima penawaran sebesar Rp20,6 triliun dan memenangkan Rp10,5 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,31996 persen. 

Seri ini memiliki jatuh tempo hingga 15 April 2036, memberikan pilihan investasi jangka panjang bagi para pembeli. Salah satu investor mengatakan, “Kami menilai SUN seri ini sangat menarik karena stabilitas dan yield yang kompetitif.”

Penyerapan dana pada seri FR0109 juga cukup signifikan, dengan nominal Rp6,15 triliun dari penawaran masuk Rp25,4 triliun. Imbal hasil yang ditawarkan sebesar 5,70605 persen dengan jatuh tempo 15 Maret 2031 memberikan alternatif bagi investor yang menginginkan durasi menengah. 

“Kebijakan fiskal yang sehat serta transparansi pemerintah membuat kami yakin untuk menambah porsi investasi di seri ini,” tambah investor lainnya.

Diversifikasi Seri SUN dan Imbal Hasil yang Kompetitif

Selain seri FR0108 dan FR0109, pemerintah juga berhasil memenangkan Rp5,6 triliun dari penawaran seri FR0106 yang mencapai Rp6,94 triliun. 

Imbal hasil rata-rata tertimbang yang didapat sebesar 6,53998 persen dengan tanggal jatuh tempo 15 Agustus 2040. Hal ini menunjukkan peluang bagi investor untuk mendapatkan return menarik pada instrumen jangka panjang.

Seri SPN12270204 yang merupakan penerbitan baru juga diminati pasar dengan penyerapan dana sebesar Rp5 triliun dari total penawaran Rp6,92 triliun. Imbal hasilnya berada di angka 4,61000 persen dengan jatuh tempo 4 Februari 2027, menjadikannya pilihan investasi jangka pendek. 

“Kami melihat adanya keseimbangan antara tenor dan imbal hasil yang sesuai dengan kebutuhan likuiditas,” ujar salah satu peserta lelang.

Penyerapan pada seri FR0105 sebesar Rp2,85 triliun dengan penawaran Rp3,75 triliun menunjukkan permintaan yang baik terhadap instrumen jangka sangat panjang dengan jatuh tempo 15 Juli 2064. 

Imbal hasil yang diterima rata-rata 6,78996 persen, memberikan keuntungan yang menarik bagi para investor yang ingin memanfaatkan potensi jangka panjang. Investor mengatakan, “Seri ini cocok bagi investor institusi yang mencari stabilitas dalam portofolio mereka.”

Serapan Dana dan Pilihan Investasi Bervariasi Sesuai Kebutuhan

Seri FR0102 menyumbang penyerapan dana sebesar Rp2,8 triliun dari penawaran Rp3,79 triliun dengan imbal hasil rata-rata 6,74989 persen. 

Jatuh tempo seri ini jatuh pada tanggal 15 Juli 2054, memberikan opsi investasi dengan durasi yang panjang. “Kombinasi antara keamanan dan imbal hasil yang kompetitif membuat seri ini menjadi favorit kami,” kata seorang analis keuangan.

Seri SPN01260307 sebagai penerbitan baru berhasil menyerap Rp1,55 triliun dari penawaran Rp2,66 triliun. Imbal hasilnya 4,48000 persen dan jatuh tempo 7 Maret 2026, cocok untuk kebutuhan likuiditas jangka pendek. Ini menjadi pilihan ideal bagi investor yang ingin mengelola risiko dan mendapatkan pengembalian dalam waktu singkat.

Seri FR0107 yang memiliki jatuh tempo 15 Agustus 2045 berhasil diserap dana sebesar Rp1,05 triliun dari total penawaran Rp4,13 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,58795 persen. Instrumen ini memberikan opsi diversifikasi portofolio bagi investor yang mencari imbal hasil menengah hingga panjang. 

“Diversifikasi adalah kunci, dan seri ini menambah nilai di portofolio kami,” ujar seorang manajer investasi.

Penawaran dan Permintaan SUN Mencerminkan Stabilitas Ekonomi Nasional

Pemerintah juga berhasil menyerap Rp500 miliar dari seri SPN12260507 yang mencatatkan penawaran masuk Rp2,4 triliun. 

Imbal hasil rata-rata tertimbang yang dimenangkan sebesar 4,50000 persen dengan jatuh tempo 7 Mei 2026. Jumlah penawaran yang tinggi mencerminkan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi dan pengelolaan fiskal Indonesia.

Penawaran dan penyerapan dana dalam lelang kali ini memberikan gambaran jelas mengenai permintaan yang kuat dari investor domestik maupun asing. Hal ini memperkuat posisi pemerintah dalam mendanai anggaran pembangunan dan memastikan likuiditas pasar keuangan tetap stabil. 

Kepala DJPPR menegaskan, “Kinerja lelang ini adalah bukti nyata bahwa kebijakan ekonomi yang dijalankan mendapat dukungan luas dari berbagai pemangku kepentingan.”

Selama rapat koordinasi, Menteri Keuangan menyampaikan bahwa hasil lelang SUN ini akan dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung berbagai program prioritas pembangunan nasional. 

“Dana yang kami peroleh akan digunakan untuk memperkuat investasi infrastruktur dan program sosial yang berdampak langsung pada masyarakat,” ujarnya.

Meningkatkan Kepercayaan Pasar dan Transparansi Pengelolaan Utang

Keberhasilan lelang SUN ini tidak terlepas dari upaya pemerintah dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan utang negara. Peningkatan komunikasi yang intensif dengan investor serta pemenuhan regulasi menjadi faktor kunci dalam menarik minat pasar. 

“Kami menghargai komitmen pemerintah dalam menjaga kredibilitas pasar keuangan nasional,” kata seorang pengamat ekonomi.

Pemerintah juga terus mengoptimalkan penggunaan teknologi dan data untuk meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan lelang dan pengelolaan risiko. 

Hal ini berdampak positif pada kecepatan dan ketepatan dalam pengambilan keputusan terkait instrumen pembiayaan. Investor merasa nyaman dengan proses yang transparan dan akuntabel sehingga memudahkan mereka dalam merencanakan strategi investasi.

Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk menjaga hubungan baik dengan pasar modal dan terus berinovasi dalam pengelolaan pembiayaan negara. 

Hal ini penting agar likuiditas pasar tetap sehat dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. “Kami percaya sinergi ini akan memperkuat pondasi fiskal negara,” tutup pejabat terkait.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index