BRIN

BRIN Tekankan Ekosistem Manuskrip sebagai Pilar Ketahanan Budaya Nasional

BRIN Tekankan Ekosistem Manuskrip sebagai Pilar Ketahanan Budaya Nasional
BRIN Tekankan Ekosistem Manuskrip sebagai Pilar Ketahanan Budaya Nasional

JAKARTA - Pelestarian manuskrip kerap dipahami sebatas upaya menyelamatkan naskah kuno dari kerusakan fisik atau kepunahan melalui digitalisasi. 

Namun, pendekatan tersebut dinilai belum cukup untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa manuskrip tidak dapat dilepaskan dari ekosistem sosial dan budaya yang menghidupkannya.

 Tanpa ekosistem tersebut, manuskrip berpotensi kehilangan makna, fungsi, dan relevansinya bagi masyarakat.

Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) BRIN menempatkan ekosistem manuskrip sebagai fondasi utama ketahanan budaya. 

Manuskrip tidak hanya dipandang sebagai teks tertulis, melainkan sebagai bagian dari praktik hidup yang terus berinteraksi dengan ritual, pendidikan, dan nilai-nilai masyarakat. Perspektif ini menjadi penting di tengah maraknya digitalisasi naskah yang kerap dianggap sebagai solusi tunggal pelestarian.

Pendekatan berbasis ekosistem tersebut menegaskan bahwa manuskrip bertahan bukan semata karena usia atau keasliannya, melainkan karena masih digunakan, dimaknai, dan diwariskan secara aktif. 

Oleh karena itu, pelestarian manuskrip memerlukan pemahaman yang lebih luas tentang peran manuskrip dalam kehidupan sosial budaya masyarakat pendukungnya.

Manuskrip Ruwatan Jember dan Tradisi yang Tetap Hidup

Periset PR MLTL BRIN Agus Iswanto menyoroti hasil penelitiannya mengenai tradisi pembacaan manuskrip ruwatan di Jember, Jawa Timur. Dalam penelitiannya, Agus menemukan bahwa manuskrip tertentu justru mampu bertahan karena masih digunakan secara aktif dalam ritual masyarakat.

"Manuskrip ini tidak bisa digantikan oleh cetakan atau digital. Untuk ruwatan, syaratnya harus naskah tulis tangan beraksara Pegon dan dibaca dalam ritual," katanya.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa nilai manuskrip tidak hanya terletak pada isi teksnya, tetapi juga pada medium, aksara, serta konteks penggunaannya. Dalam tradisi ruwatan, manuskrip bukan sekadar bahan bacaan, melainkan bagian sakral dari prosesi ritual yang memiliki makna simbolik dan spiritual.

Agus menekankan bahwa manuskrip seperti ini hanya dapat bertahan apabila ekosistem pendukungnya tetap hidup. Selama masyarakat masih menjalankan ritual dan memegang nilai-nilai yang melekat pada manuskrip tersebut, naskah akan terus dirawat dan diwariskan lintas generasi.

Ekosistem Sosial sebagai Penopang Ketahanan Manuskrip

Menurut Agus, ketahanan tradisi manuskrip ditopang oleh ekosistem yang utuh. Ekosistem tersebut melibatkan berbagai peran, mulai dari penyalin naskah, pembaca, peruwat, tuan rumah ritual, hingga audiens atau masyarakat pendukung.

Agus menilai bahwa digitalisasi tetap memiliki peran penting dalam pelestarian manuskrip, terutama untuk dokumentasi dan akses pengetahuan. Namun, digitalisasi bukanlah satu-satunya solusi dalam menjaga keberlanjutan tradisi manuskrip.

"Tidak semua budaya manuskrip bisa diselamatkan hanya dengan digitalisasi. Ekosistem sosial-budaya masyarakat lah yang menentukan," ujarnya menegaskan.

Pernyataan ini menegaskan bahwa pelestarian manuskrip harus mempertimbangkan dinamika sosial masyarakat. Tanpa pelibatan komunitas, digitalisasi berisiko menjadikan manuskrip sebagai artefak mati yang terpisah dari konteks budaya aslinya.

Manuskrip sebagai Tradisi Hidup yang Beradaptasi

Pandangan serupa disampaikan Peserta Program Doktoral Riset BRIN/Fakultas Ilmu Bahasa (FIB) Universitas Indonesia, Muh. Heno Wijayanto. Ia menilai manuskrip kerap keliru dipahami sebagai artefak statis yang hanya perlu disimpan dan dijaga keasliannya.

Dalam kajiannya mengenai transformasi ritual lewatan di Jawa Tengah melalui teks Bhima Swarga, Heno menemukan bahwa ketahanan manuskrip justru terletak pada kemampuannya beradaptasi lintas zaman dan sistem kepercayaan.

"Manuskrip seharusnya dilihat sebagai tradisi yang hidup, melibatkan praktik tulis, ritual, dan pendidikan yang terus berlanjut. Kunci resiliensinya adalah adaptasi. Tradisi bertahan bukan karena utuh, tetapi karena mampu memberi makna baru bagi masyarakatnya," urai Heno.

Menurutnya, perubahan tidak selalu berarti kehilangan nilai. Justru melalui adaptasi, manuskrip dapat terus relevan dan diterima oleh generasi baru. Proses adaptasi inilah yang memungkinkan teks-teks lama tetap hidup di tengah perubahan sosial dan budaya.

Paradoks Digitalisasi dalam Pelestarian Warisan Tekstual

Sementara itu, Peneliti Budaya sekaligus Assistant Professor dari Universitas Leiden Belanda, Verena Meyer, mengkritisi paradoks dalam upaya pelestarian warisan tekstual. Ia menilai bahwa tradisi yang masih hidup justru sering dianggap kurang penting dibandingkan teks tua yang dinilai lebih asli dan bernilai tinggi.

Menurut Verena, digitalisasi bersifat ambivalen atau bertentangan. Di satu sisi, digitalisasi membantu memperluas akses dan melindungi manuskrip dari kerusakan fisik. Namun di sisi lain, digitalisasi juga berpotensi mencabut teks dari ekosistem sosial yang memberinya makna.

"Digitalisasi membantu, tetapi juga bisa mencabut teks dari ekosistem yang memberinya makna. Arsip digital pada dirinya sendiri belum merupakan ekosistem tempat tradisi bisa hidup," ucap Verena Meyer.

Pandangan ini memperkuat gagasan bahwa pelestarian manuskrip memerlukan pendekatan yang seimbang antara teknologi dan pemahaman budaya. Arsip digital hanya akan bermakna apabila tetap terhubung dengan praktik sosial dan tradisi yang melatarbelakanginya.

Ketahanan Budaya dan Tantangan Pelestarian Manuskrip

Berbagai pandangan dari para peneliti tersebut menunjukkan bahwa manuskrip merupakan bagian tak terpisahkan dari ketahanan budaya. 

Manuskrip hidup dalam jaringan relasi sosial, ritual, dan pengetahuan yang terus berkembang. Ketika ekosistem ini terjaga, manuskrip memiliki peluang besar untuk bertahan dan terus memberi makna.

BRIN melalui PR MLTL menegaskan bahwa pelestarian manuskrip tidak bisa dilakukan secara parsial. Pendekatan ekosistem menjadi kunci agar warisan tekstual tidak hanya tersimpan, tetapi juga tetap hidup dan berfungsi dalam masyarakat. 

Dengan demikian, manuskrip tidak hanya menjadi saksi masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi dan identitas budaya di masa kini dan mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index